Jumat, 15 Januari 2016

Catatan Akhir Tahun 2015



Melesat terbang tinggi
Desember yang kering dan gerah kurang dari 24 jam akan berakhir. Dan tetiba ada hujan di pagi dinihari tanggal 31. Hujan semakin deras seolah mengabarkan bahwa dia masih ada sebagai perantara berkat Tuhan di tahun 2015 ini. Tahun 2015 bagi saya adalah tahun yang gampang-gampang susah (baca: sulit). Susah mungkin karena ada beberapa resolusi (harapan) di tahun ini yang belum tercapai, seperti menikah, memiliki tabungan yang cukup, relasi yang renggang, mempunyai sumber penghasilan lain yang  baik serta pekerjaan yang lancar. Sedangkan gampang karena ada hal-hal yang sudah tidak masuk resolusi dan sudah tidak diharapkan malah berjalan dan menunjukkan titik baik di tahun 2015 ini. Diantaranya bisa liburan ke Malang, Bali, Lombok, nge-trip jalan darat Malang-Ende untuk pertama kalinya, bisa touring bareng teman-teman pecinta alam, mbolang, mengikuti kursus TOEFL (walaupun hasil skor TOEFL belum tahu sampai akhir Desember ini), keluarga yang menikah, dan pelan-pelan bisa mengendalikan dan memanage suasana hati. Oia, termasuk menjalin relationship (spesial) baru dengan tantangan yang  tidak biasa.
     Banyak pelajaran dan pengalaman yang semakin memperkaya serta mendewasakan saya di tahun ini. Diantaranya adalah kita tidak harus mempertahankan sesuatu hal, orang, keinginan, situasi secara keras dan ekstrem. Ketika kita memberi ruang dan membiarkan perubahan terjadi ternyata semuanya baik-baik saja. Ketika masalah datang menghampiri seperti kehilangan cinta karena orang yang kita sayangi berbailik memunggungi kita dan pergi menjauh, atau kita terhempas dari zona nyaman kita, ternyata masih ada semesta. Semesta yang senantiasa memberikan pengalaman baru dan mendukung kita. Tuhan menghadirkan orang-orang baru yang baik untuk menggantikan mereka yang dengan sengaja pergi meninggalkan kita. Itulah dinamika hidup yang harus disyukuri.
        Tahun 2015 tahun yang berkesan sekalipun bukanlah yang excited. Sebagai pribadi, di tahun ini saya masih banyak melakukan kesalahan-kesalahan. Masih belum menjadi pribadi yang lebih baik, khususnya dalam sisi rohani. Doa dan sembhayang yang masih banyak bolongnya. Masih banyak bermainnya ketimbang berpikir serius untuk masa depan. Sering terjebak pada masalah-masalah tidak penting karena ulah sendiri. Lebih sering mengikuti nafsu dan keinginan daging. Termasuk kontrol diri dan emosi yang lemah.
          Sebentar lagi tahun 2016 menjelang. Fajar baru datang. Harus menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tahun fighting untuk semua hal. Kembali menata rencana, visi dan misi masa depan. Sudah saatnya di tahun baru nanti melesat bak anak panah. Semakin menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Satu pinta ku Tuhan, sertai setiap langkah saya di tahun 2016. Jadikanlah saya menjadi berkat bagi banyak orang. Menjadi senyum bagi mereka yang bersedih, menjadi damai bagi mereka yang dikuasai amarah, jadi teman bagi mereka yang kesepian. Semoga....
Welcome 2016...
Happy New Year all....:)

Selasa, 21 April 2015

Ae Wau, Kolam Spa di Tengah Hutan


Kolam Ae Wau di Desa Nggela

Apakah Anda pernah merasakan spa di tengah hutan??? Saya rasa sebagian dari kita belum pernah mengalami pengalaman unik tersebut. Tapi saya sudah. Berendam di kolam air hangat (suam-suam kuku) laiknya di spa sambil memandangi langit dan laut sembari mendengarkan gemericik air di sela bebatuan dan terkadang ditingkahi suara burung. Selain langit dan laut biru, mata ini juga dimanja dengan pepohonan hijau dan pemandangan bukit serta gunung Kelimara di kejauhan.

Kolam Ae Wau di Desa Nggela, Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende menawarkan semua pengalaman yang saya ceritakan diatas. Daripada jauh-jauh dan membayar mahal untuk merasakan terapi air (spa), datanglah ke kolam mini ini. Gratis.

Ae Wau sendiri dalam bahasa Indonesia berarti air bau, karena kandungan belerangnya sangat tinggi. Di tempat ini ada mata air hangat yang sudah dikenal warga sejak jaman dahulu. Warga sekitar bahkan percaya kalau Ae Wau bisa mengobati aneka jenis penyakit kulit. Menurut cerita pada jaman dahulu banyak orang dari berbagai daerah di Flores yang mengidap penyakit “kulit dua” (panu, kadas, kurap) yang datang berobat dengan memanfaatkan terapi air dari mata air Ae Wau ini. Sejak diijinkan oleh Kapitan Nggela saat itu, banyak dari mereka yang menetap dan membuka kampung baru. Hingga saat ini ada beberapa kampung di kecamatan Wolojita yang warganya adalah turunan dari Bajawa, Manggarai dan Maumere. 
 
Dibagi menjadi kolam laki-laki dan kolam perempuan
Di lokasi ini terdapat 2 (dua) kolam pemandaian yang diperuntukan untuk laki-laki dan perempuan. Kolam untuk lak-laki ukurannya lebih besar dari kolam untuk perempuan. Kolam yang sebelumnya masih sangat sederhana karena hanya dipagari batu di sekeliling mata air dan genangannya, sekarang sudah dibuat lebih baik dengan tembok batu di sekelilingnya dengan dasar yang tidak disemen tapi di alasi bebatuan. Dengan begitu kesan naturalnya masih Nampak. Ae Wau layak menjadi salah satu destinasi pariwisata Kabupaten Ende. Jarak tempuh dari kota Ende ± 100 km untuk sampai ke lokasi ini dengan waktu tempuh 2 – 2,5 jam dengan menggunakan kendaraan roda 2 atau roda 4. Ada 2 (dua) pilihan jalur untuk sampai ke lokasi Ae Wau yaitu melalui kampung adat Nggela atau bias juga melalui Kelurahan Wolojita. Dari kedua lokasi titik start ini kita akan berjalan kaki (trekking) ± 500 m untuk sampai ke kolam. Setelah menikmati spa gratis tersebut kita juga bisa mengunjungi kampung adat Nggela yang masih memegang teguh adat istiadat Lio dengan kompleks rumah adat, budaya, arsitektur lokal, kebiasaan warga setempat dan juga senyum serta sapaan hangat mereka.
 
Berendam sembari ngobrol
Berinteraksi dengan komunitas warga lokal yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, persahabatan, dan keramahan khas Flores serta disuguhi pemandangan alam yang masih natural menjadi pengalaman berkesan yang sulit dilupakan. Nusa Tenggara Timur, Flores, Ende menawarkan semua itu untuk mereka yang mencintai alam dan kehidupan. :D

Jumat, 21 Februari 2014

My Christmas Trip dan Kampung Adat Bena



Travelling bagi saya adalah tatkala saya bisa menikmati perjalanan tanpa berpikir tentang apapun kecuali berkaitan dengan perjalanan itu sendiri. Saya suka melakoni travelling dadakan yang tanpa rencana seperti kali ini. Cukup berbekal uang untuk beli bensin dengan makan, pakaian ganti (2 celana dan 3 baju) + underwear. Seperti kali ini saya melakukan perjalanan saat hari Natal, 25 Desember 2013. Dengan matic hitam kesayangan, saya meninggalkan kota Ende di Hari Natal dengan cuaca “basah” dan langit bermuram durja ke arah barat Flores. Tetapi kewajiban sebagai anak untuk “sungkem” kepada orang tua pada hari raya, saya menerjang hujan dan melaju menuju Mauponggo. Langit yang bermuram durja menumpahkan ‘air mata’-nya sejak Nangapanda sampai memasuki Boawae.
       
Gereja Fransiskus Xaverius Boawae
Boawae merupakan salah satu Kecamatan yang masuk Kabupaten Nagekeo dan terletak di kaki gunung Ebulobo. Dari Boawae, kita dapat memandang gunung Ebulobo yang berdiri gagah dan menjulang tinggi. Boawae beriklim sejuk, tidak dingin dan tidak panas. Jika lewat, jangan lupa singgah di Gereja Fransiskus Xaverius, gereja Katolik peninggalan jaman Belanda yang baru direnovasi. Kita bisa mengabadikan gambar di ikon kota kecamatan ini. Saya tidak sempat foto-foto di gereja ini karena sebelumnya pernah foto disini. Setelah meninggalkan Boawae, perjalanan saya lanjutkan menuju Mauponggo untungnya sudah tidak hujan jadi perjalanan cukup lancar. Jam 16.30 saya sampai di Mauponggo dan langsung ‘sungkem’ selamat Natal dengan Mama. *0*

Kali di Desa Laja Kecamatan Golewa
     Kecamatan Mauponggo masuk Kabupaten Nagekeo dan terletak di pinggir pantai menghadap Laut Sawu. Daerah ini cukup subur karena berdiri gunung Ebulobo yang menjulang tinggi. Dari gunung ini mengalirkan kali Mauponggo yang memberi kehidupan untuk warga kecamatan ini. Saya hanya semalam bersama keluarga, di pondok mungil kami, di tengah sawah. Keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan menuju Bajawa melalui jalur Maumbawa-Malanuza-Mataloko. Jalur yang terakhir kali saya lewati saat kelas 4 SD. Ada yang unik di jalur ini yaitu gereja Paroki Maukeli yang baru dibangun, yang di seberang jalannya terdapat masjid. Kedua rumah ibadah ini mempunyai warna cat yang sama, rupanya memang disengaja. Bahkan menurut cerita, yang membantu memugar masjid adalah orang-orang Katolik warga setempat. Ini bukti bahwa di Desa Maukeli toleransi dan hidup berdampingan secara damai dan gotong royong menjadi nafas warganya. Salut. 

          Sampai di Bajawa hari sudah merambat petang. Udara yang dingin dan berangin serta hujan gerimis menyebabkan matahari sore enggan memancarkan cahayanya. Di Bajawa waktu seolah terhenti karena situasi kotanya tidak banyak berubah. Jalan-jalan masih sama seperti belasan tahun lalu. Sore yang dingin sehabis hujan membuat orang lebih betah berada di rumah daripada berkeliling kota. Saya memilih untuk beristirahat dan bersantai sembari menyeruput kopi panas dan menonton teve. 

          Kedatangan saya kali ini selain mengunjungi keluarga, juga punya misi khusus yaitu  melihat kampung adat Bena. Apalagi saya belum pernah datang secara langsung ke Bena. Hari Jumat, saya bangun kesiangan sekitar jam 8.30 pagi. Di jam segitu udara Bajawa masih dingin menusuk tulang. Saya memilih untuk menikmati segelas kopi panas sambil ngobrol cerita-cerita dengan Aba dan Mama.

          Ah biar agak siang dulu baru mandi, pikir saya. Saya meneruskan ngopi sendiri karena Aba dengan Mana ada urusan keluarga di Nangaroro. Sambil ngopi saya menonton acara musik dari salah satu stasiun teve. Tidak terasa sudah jam 11 siang. Rupanya hari itu Bajawa masih diguyur hujan dan juga angin yang bertiup cukup kencang. Efeknya sampai tengah hari pun udara masih terasa dingin. Setelah mandi dan berpakaian, saya memutuskan untuk putar-putar kota sebentar mumpung tidak hujan. Saya sempat ke pertokoan (pasar lama) Bajawa. Situasinya sudah agak berubah sedikit. Tidak penuh dan kumuh seperti sebelumnya, karena banyak pedagang kaki lima (pedagang papalele) yang sudah dipindahkan ke pasar baru Bobou. Walaupun letaknya agak keluar kota tapi saya sebagai pribadi setuju dan mendukung kebijakan Pak Bupati yang satu ini. Biar kota Bajawa bisa berkembang ke arah Bobou dan sekitarnya dan juga ada yang namanya perubahan. 

          Setelah keliling-keliling, hari itu saya sempatkan untuk singgah ke Pastoran Paroki St. Yosef Bajawa untuk sowan (ketemu) dengan Pater Dus, OCD. Pastor Ubaldus, OCD adalah pastor idola saya. Seorang pastor yang baik, dekat dengan umat dan dicintai oleh umatnya. Sejak saya kecil, Pater ini sudah bertugas di Paroki San Jose Bajawa. Meninggalkan negerinya di India dan mengabdi melayani umat di kota “Little Betlehem”. Menjadi imam misionaris yang melayani dengan sepenuh hati, rela mendatangi rumah umatnya satu persatu hanya untuk mengunjungi dan menanyakan kabar. Saya cukup lama duduk ngobrol dengan Pater Ubaldus, OCD siang itu. Setelah puas ngobrol, saya pun pamit pulang dan berjanji akan datang lagi sebelum kembali ke Ende. 

Kampung Adat Bena

        
Gunung Inerie yang berdiri gagah
       Keesokan harinya, Sabtu (28/12), udara cukup cerah. Saya bangun tidur terus ngopi sejenak untuk mengusir dingin. Karena masih libur dan kebetulan ada di Bajawa yang dingin, jadi saya bisa berleha-leha sampai tengah hari sebelum mandi. Setelah mandi dan makan siang, saya bergegas berangkat ke kampung adat Bena yang merupakan salah satu destinasi favorit pariwisata Ngada dan berjarak kurang lebih 18 km dari kota Bajawa. Saya memacu kendaraan dengan santai sambil menikmati pemandangan yang disuguhkan di sepanjang jalan. Perjalanan saya ke arah selatan dari kota Bajawa mendekati gunung Inerie, salah satu gunung berapi di Kabupaten Ngada yang pernah meletus di tahun 1882 dan 1970. Gunung Inerie memiliki ketinggian 2245 meter di atas permukaan laut. 

         Setelah melewati perkampungan dan desa Tiwuriwu di Kecamatan Jerebu’u, sampailah saya di perkampungan adat Bena. Tidak lama juga waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Bena dari kota Bajawa. Kurang lebih 30 menit, itu juga jika kita berkendara dengan santai, seperti saya siang itu. 
        Rupanya kali ini saya cukup beruntung, karena hari itu bertepatan dengan pesta adat ‘Reba’ atau pesta tahun baru untuk etnis suku Bajawa (Ngada) yang dibuka atau diawali di kampung Bena. Reba Bena (pesta adat Reba di Bena) sebagai penanda dimulainya Wula Reba (bulan Reba) menurut penanggalan adat jatuh pada bulan Desember – Februari. Reba adalah pesta adat syukur atas hasil panen dan juga bentuk penghormatan terhadap leluhur. 
          Siang itu kampung Bena terlihat ramai dan meriah dengan warga kampung dan keluarga yang mengenakan pakaian adat Bajawa dengan pernak pernik yang berwarna-warni. Rupanya pagi tadi mereka baru selesai melaksanakan upacara ekaristi di rumah tetua kampung sebagai tanda dimulainya wula reba
 
O Uwi, tarian syukur saat Reba
       Biasanya setelah upacara ekaristi, warga kampung mulai menari dalam lingkaran yang diiringi dengan nyanyian adat (O Uwi). Mereka bisa menari sepanjang hari sampai malam. Semua peserta yang menari dalam lingkaran memakai pakaian adat dengan memegang properti pedang panjang (sau) dan tongkat warna-warni yang dihiasi dengan bulu kambing pada bagian ujungnya (tuba). Para tamu juga bisa ikut menari tetapi sebelumnya akan dikasih kain/sarung adat untuk dikenakan. Reba Bena biasanya dilaksanakan selama 2-3 hari. Selama perayaan, makanan tidak pernah kurang. Para tamu yang datang atau orang yang sekedar lewat pun akan dipanggil dan dijamu dengan makanan dan minuman.  Sekalipun pada orang yang tidak mereka kenal. 
         Walaupun warganya sedang merayakan pesta adat reba, kampung adat Bena tetap terbuka untuk dikunjungi para wisatawan ataupun pelancong yang ingin melihat-lihat bangunan rumah  adat yang sudah berusia ratusan tahun maupun batu-batu megalith (ture) yang menjulang tinggi yang disusun sebagai mezbah untuk mentahtakan persembahan bagi para leluhur. 
Kampung Megalitikum Adat Bena
        Kampung adat Bena yang berusia ratusan tahun ini terdiri dari kurang lebih 40 unit rumah adat yang arsitekturnya terlihat seragam dan berderet linear. Ada 9 (sembilan) suku yang mendiami kampung Bena, yaitu: suku Dizi, Wato, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Bena, Dizi Azi, Kopa, Agho, dan Ngadha. Suku atau klan-klan ini yang mendiami kampung Bena dan bertanggung jawab menjaga tradisi. Suku Bena menjadi suku utama sekaligus menjadi nama kampung. Di tengah kampung tepatnya di pelataran, diantara batu-batu megalith, kita akan menjumpai Ngadhu dan Bagha sebagai bangunan yang disakralkan. Ngadhu sebagai perlambangan laki-laki atau maskulinitas, bangunannya hampir mirip payung. Sedangkan Bagha sebagai perlambangan perempuan atau feminitas, bangunannya menyerupai rumah tetapi lebih kecil. Warga Bena sama seperti sebagian besar suku di Ngada menganut sistem matrilineal dimana perempuan lebih utama, dan laki-laki yang menikah dengan perempuan suku Bena harus masuk klan perempuan. 
          Warga kampung Bena pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani dan memelihara ternak serta hewan domestik (ayam, babi, anjing). Mereka mengerjakan ladang yang terletak di kaki gunung Inerie. Saat ini kampung Bena dihuni oleh kurang lebih 326 jiwa atau 120 keluarga. 
         
Nenek dan cucunya
Saya cukup lama berkeliling di kampung ini sembari mengabadikan gambar di beberapa titik, ngobrol dengan warga dan juga menyaksikan ritual tarian o uwi di tengah kampung. Tidak terasa waktu sudah mendekati petang dan saya bergegas meninggalkan kampung tua yang syarat cerita dan simbol. Beberapa hal yang harus menjadi perhatian Pemda Ngada adalah lagi-lagi mengenai kebersihan lokasi, disamping itu juga mengoptimalkan warga utnuk lebih berkreasi hingga mendatangkan income. Saya pada saat itu tidak melihat semacam kedai/warung/tempat yang menjual makanan dan minuman. Dan juga yang penting yaitu belum ada papan informasi yang menceritakan tentang sejarah dan kekhasan dari kampung Bena. Semoga kedepannya Pemda Ngada dalam hal ini instansi pariwisata bisa mengembangkan destinasi di seputaran kampung Bena tanpa merubah sedikitpun keaslian dari kampung megalitikum ini.

     Saya memacu sang matic hitam kembali ke kota dingin Bajawa sembari menikmati sapuan angin pegunungan yang dingin dan sejuk ditemani mentari senja. 

Senin, 07 Oktober 2013

Ende, Kota Sejarah yang Terlupakan



Pulau Ende di Lepas Pantai
Menurut legenda, Pulau Ende merupakan parang (baca: golok) dari Gunung Wongge yang dibuang ke laut setelah menebas leher dari Gunung Meja. Legenda cinta segitiga Gunung Iya, Gunung Meja dan Gunung Wongge hidup dan diceritakan turun-temurun. Ikon-ikon kota Ende seperti Gunung Meja, Gunung Iya, dan Pulau Koa adalah bagian dari legenda tersebut.

Kota Ende adalah kota pelabuhan dan menghadap ke Pulau Ende. Sebagai ibukota Kabupaten Ende, kota ini terletak tepat di tengah-tengah Pulau Flores. Bahkan titik tengah Pulau Flores hanya berjarak ± 17 km dari pusat kota, berupa batu setinggi 3 meter, yang disebut watu gamba. Uniknya di ‘monumen’ batu tersebut ada tanda tangan mantan presiden Suharto. 

Kabupaten Ende memiliki potensi pariwisata yang kaya. Entah itu budaya, sejarah, alam, pantai, maupun tradisi. Semua itu menawarkan petualangan dan cerita tersendiri bagi siapa saja yang ingin mengeksplore lebih jauh tentang bumi tiga warna ini. Kota Ende sebagai ibukota Kabupaten Ende merupakan pintu gerbang untuk mengenal semua kekayaan tersebut. 

Sejarah Kota Ende

Kota Ende merupakan kota pelabuhan dengan view Gunung Meja
                Sejarah Kota Ende bermula dari Nua Ende yang merupakan hikayat atau dongeng hasil telusuran dari karangan S. Roos yang berjudul “Iets Over Ende” dan juga karangan Van Suchtelen tentang “Onderafdeling Ende”. Menurut hikayat (baca: mitos) bahwa turunan orang Ende berasal dari langit, Ambu Roru (laki-laki) dan Ambu Mo’do (perempuan). Mereka kawin dan mempunyai 4 (empat) orang anak, 2 (dua) perempuan dan 2 (dua) laki-laki. Dalam perjalanan waktu satu anak perempuan menghilang, sehingga 3 (tiga) anak yang lain melanjutkan keturunan Ambu Roru dan Ambu Mo’do. Ambu Roru sekeluarga tinggal di pulau kecil (Pulau Ende).

                Pada suatu hari, Borokanda, Rako Madange, dan Keto Kuwa bersampan dari pulau Ende ke pulau besar untuk melihat umpan ikan yang mereka pasang. Saat itu pulau besar dikuasai oleh Ambu Nggo’be. Anak-anak Ambu Roru ini rupanya mendapat banyak ikan, yang separuhnya mereka makan ditempat dan yang sisanya mereka bawa pulang ke rumah. Sementara mereka makan datanglah Ambu Nggo’be, sang tuan tanah. Borokanda dan saudara-saudaranya mengajak Ambu Nggo’be untuk makan bersama dan pertemuan mereka ini membawa persahabatan.  

      Sebagai balas jasa, Ambu Nggo`be mengajak Ambu Roru dan keluarganya untuk meninggalkan Pulau Ende supaya berdiam di pulau besar. Ambu Nggo`be memberikan tanah dengan syarat harus dibayar dengan satu gading dan seutas rantai emas. Bahan warisan itu masih disimpan Kai Kembe salah seorang turunan lurus dari Ambu Nggo`be. Jadi semua syarat dipenuhi dan diselesaikan. Mereka menebang pohon dan semak dan membuka perkampungan yang diberi nama Nua Roja, selanjutnya dalam perjalanan kemudian diganti dengan nama Nua Ende.

Dengan berjalannya waktu terjadi proses kawin mawin antara penduduk asal Pulau Ende dengan penduduk asli. Maka putera Ambu Roru kawin dengan putera Ambu Nggo`be. Beberapa waktu kemudian datang seorang laki-laki dari Modjopahit yang mengendarai ngambu atau ikan paus. Ia berdiam di Nua Ende dan kawin dengan cucu perempuan dari Ambu Roru dan Ambu Nggo`be. Ada juga seorang Cina berdiam di Ende dan kawin dengan keturunan dari keluarga besar Ambu Nggo’be. Orang Cina itu bernama Maga Rinu.

Dari hikayat yang diceriterakan ini dapat disimpulkan bahwa Nua Ende dimulai oleh Ambu Nggo`be dan bantuan Ambu Roru dari Pulau Ende dan bantuan orang Modjopahit serta orang Cina. Pengambil inisiatif dan penanggung jawabnya ialah Ambu Nggo`be sebagai tuan tanah besar. Beberepa hikayat lain seperti cerita Dori Woi, Jari Jawa maupun Kuraro juga menceritakan bahwasanya Ambu Nggo’be adalah penguasa awal yang membangun Tana Ende.

Patung Soekarno di Taman Pancasila
Ende menyimpan banyak hal menarik untuk dikulik salah satunya sebutan kota sejarah. Selain itu sebutan Kota Pancasila, Kota Pelajar dan Bumi Danau Tiga Warna sudah dikenal lama. Di Kota Ende ini, Proklamator RI, Soekarno pernah tinggal dan bergaul dengn penduduk setempat. Bung Karno yang diasingkan oleh pemerintah Belanda karena perjuangannya, menganggap Ende sebagai miniatur Indonesia. Karena heterogen warganya dan latar belakang tapi dapat hidup damai minim gesekan dan konflik. Toleransi dan saling hormat menghormati, hargai menghargai menjadi nafas kota ini. 

Selama di Ende, Soekarno bukanlah tokoh elite yang tinggal di menara gading. Beliau tinggal dan mengontrak rumah penduduk dan sering bepergian keliling Ende dan berkenalan dengan siapa saja. Tempat-tempat dan jejak-jejak yang sering didatangi dan menjadi favorit Ir. Soekarno dapat ditemui sampai saat ini. Beberapa bahkan merupakan situs sejarah yang masih terawat baik dan sering dikunjungi oleh wisatawan. Diantaranya rumah tinggal bung Karno di Jalan Perwira, kampung Ambugaga dan pohon sukun sebagai tempat perenungan Pancasila. Selain itu juga ada gedung Imakulata, Gereja Katedral, Masjid Arabita (masjid tertua di Ende), makam Ibu Amsi (Ibunda Inggit Ganarsih), pelabuhan, eks toko De Leew (sekarang toko Sekawan Baru), Percetakan Arnoldus, kali Wolowona dan kali Nangaba. Di tempat-tempat tersebut Bung Karno bertemu dan berinteraksi dengan warga Ende, para ulama, para pastor, maupun tokoh masyarakat. 

Di Kota Ende juga butir-butir Pancasila dikandung dalam perenungan (baca kontemplasi) Sang Proklamator. Di Ende, Bung Karno memperoleh kesempatan untuk mematangkan gagasannya tentang dasar perjuangannya memerdekaan Indonesia. Menjadi kebanggan juga bahwa pemerintah menetapkan perayaan peringatan hari lahir Pancasila, 1 Juni, secara nasional di kota ini. Tempat Bung Karno sering duduk untuk merenung saat ini dijadikan taman dan ditahtakan patung Soekarno muda duduk dengan memandangi laut. Membayangkan saat itu masih banyak pohon sukun, mahoni, dan asam jawa yang membuat udara sejuk dan hening dengan suara ombak pantai sebagai musik alam yang syahdu. Sedangkan monumen pancasila sendiri dapat ditemui di simpang lima, tidak jauh dari bandara H. Hasan Aroeboesman.

Selain sebagai kota sejarah lahirnya ilham 5 (lima) sila Pancasila, Kota Ende dikenal juga sebagai kota pendidikan di Pulau Flores. Karena di kota ini banyak sekolah bermutu dan juga perguruan tinggi. Salah satunya adalah Universitas Flores. Banyak orang muda dari kota-kota di Flores, Timor, Sumba hingga Alor dan Lembata yang datang menimba ilmu. Kehadiran mereka berkontribusi dalam menggeliatnya perekonomian, juga menambah kaya budaya warga kota dengan budaya-budaya yang berbeda.

Warga Kota Ende yang pluralis juga heterogen latar belakangnya, tapi yang sebenarnya ada 3 (tiga) suku yang dominan, ketiganya memiliki bahasa yang mirip tapi tidak sama. Ketiga suku tersebut yaitu Suku Ende, Suku Lio, dan Suku Nga’o. Warga Ende sangat ramah, apalagi dengan pendatang karena hal tersebut menjadi ciri khas orang timur yang terbuka, apa adanya.

Kota Ende dari tikungan ke arah Ndentundora
Kota Ende yang berada di pesisir selatan pulau Flores dan menghadap teluk sawu ini memiliki topografi khas daerah selatan, yaitu berbukit-bukit. Kontur tanah yang tidak rata tersebut justru menambah nilai keindahan karena ada bangunan yang dibuat diatas bukit atau tempat lebih tinggi hingga mempunyai view cantik ke arah pantai dan laut sawu. Beberapa tempat tersebut adalah kantin Universitas Flores di kampus 4, tikungan Woloweku, tikungan salib arah Ndetundora, kuburan Potunggo, dan beberapa tempat lainnya. 

Rumah adat di kampung Wolotopo
Kota kecil ini juga masih menjaga dan merawat tradisi serta budaya yang dimilikinya. Hal tersebut terlihat dari kebiasaan warganya yang masih memegang teguh tradisi, seperti menenun dan mengenakan sarung hasil tenun ikat sebagai busana sehari-hari maupun dalam acara hajatan atau kenduri. Biasanya juga dikenakan dengan baju yang dikenal dengan nama Baju Ende. Semangat gotong royong antar sesama keluarga dan warga kampung juga masih sangat kental. Terlebih dalam proses mempersiapkan hajatan atau kenduri untuk pernikahan, kelahiran maupun syukuran. Begitupun saat ada kematian atau pembuatan rumah. 

Gadis Lio menenun, melestarikan budaya
Tidak jauh dari Kota Ende ke arah timur ada desa yang masih menjaga simbol-simbol tradisinya berupa rumah adat, kubur batu, maupun kebiasaan menenun di kolong rumah. Di desa bernama Wolotopo di tepi pantai tersebut berjarak kurang lebih 10 km dan menjadi salah satu destinasi wisata kategori kampung adat yang juga sering dikunjungi oleh para wisatawan. Jika kita bertandang kesana akan disambut dengan ramah oleh warga setempat. 

Akhir-akhir ini Kota Ende mulai berdandan dalam rangka untuk menyambut perayaan proklamasi 17 Agustus dan juga sail komodo 2013. Ende akan menjadi salah satu destinasi yang disinggahi oleh peserta sail. Jalan-jalan dalam kota mulai dikerjakan dan diperbaharui lagi. Begitu juga pantai-pantainya, karena pantai Ria menyuguhkan sebuah pemandangan sunset yang menakjubkan. Untuk menikmati sunset, selain di Pantai Ria, juga bisa dinikmati di pantai Bita Beach, Pantai Mbuu, Maupun Pantai Penggajawa. Di pantai Penggajawa cukup menarik karena disepanjang pantai bertebaran batu-batu bulat berwarna hijau yang dikenal dengan dengan nama batu penggajawa dan bernilai ekonomis. Batu-batu ini bahkan sudah diekspor sampai ke Jepang. 

Tidak afdol kalau tidak menjelajahi sudut-sudut kota Ende. Karena selain kampung adat, pantai, situs sejarah, juga ada air terjun yang berjarak kurang lebih 12 km dari kota yaitu air terjun ae poru di desa Kadebodu. 

Matahari terbenam di Pantai Ria
Untuk sampai ke Kota Ende bisa melalui alternatif darat, laut, maupun udara. Ada beberapa maskapai yang melayani penerbangan via Denpasar atau Kupang. Sedangkan rute laut, sementara dilayani oleh kapal-kapal Pelni dan juga moda penyebrangan dari ASDP berupa fery reguler maupun fery cepat dari Kupang. Untuk rute darat banyak bus dan travel yang melayani trayek dari Ende ke semua kota di pulau Flores.